![]() |
| kolaborasi yang digelar BAZNAS Sulteng dan Mualaf Center. (Foto: BAZNAS Sulteng) |
PALU, INFO BARU — Di tengah kesibukan warga menyambut Ramadan, Masjid Al-Muhajirin, Kelurahan Petobo, Kota Palu, menjadi saksi bisu atas ikhtiar spiritual yang tak biasa. Sebanyak puluhan peserta, terdiri dari para mualaf, ibu-ibu penyintas bencana likuefaksi, serta anak-anak, mengikuti Pesantren Ramadan "Jalan Cahaya". Kegiatan yang berlangsung selama dua hari, 7–8 Maret 2026, ini merupakan wujud nyata pendampingan keagamaan bagi komunitas yang membutuhkan penguatan iman.
Pesantren kilat yang dirangkaikan dengan Malam Bina Iman dan Takwa (MABIT) tersebut digagas oleh Baznas Provinsi Sulawesi Tengah berkolaborasi dengan Mualaf Center Sulawesi Tengah. Inisiatif ini mendapat dukungan penuh dari Baznas Republik Indonesia, baik dari segi pendanaan maupun fasilitasi program.
Ketua Baznas Provinsi Sulawesi Tengah, Hatamuddin Thamrin, saat membuka kegiatan, Sabtu (7/3/2026), menegaskan bahwa program ini lahir dari keprihatinan akan kebutuhan pembinaan spiritual di kalangan masyarakat marjinal. "Kegiatan ini merupakan pesantren marjinal yang dilaksanakan oleh Mualaf Center Sulawesi Tengah dan didukung langsung oleh Baznas Republik Indonesia," ujarnya.
Ia menjelaskan, agenda pembukaan sejatinya akan dihadiri langsung oleh Ketua Baznas RI. Namun karena adanya agenda mendadak yang tidak dapat diwakilkan, pembukaan dipercayakan kepada jajaran Baznas Provinsi Sulawesi Tengah. Hal ini menunjukkan tingginya perhatian lembaga zakat nasional terhadap pembinaan keagamaan di daerah-daerah pascabencana.
Selama satu malam dua hari, para peserta diajak menyelami berbagai materi keagamaan yang disampaikan oleh para ustaz. Materi yang dirancang secara khusus tersebut tidak hanya bertujuan meningkatkan pemahaman tentang ajaran Islam, tetapi juga menjadi terapi spiritual bagi para penyintas likuefaksi yang kerap bergulat dengan trauma masa lalu. Suasana hangat dan penuh kekeluargaan terlihat saat para ibu dan anak-anak antusias mengikuti sesi demi sesi.
Pemilihan tema "Jalan Cahaya" pun bukan tanpa alasan. Hatamuddin menjelaskan, tema tersebut sarat makna, terutama bagi warga Petobo yang pernah mengalami masa kelam pascabencana 2018 silam. "Maknanya bagaimana dari kegelapan menuju cahaya, dari yang belum jelas menjadi lebih jelas dalam memahami ajaran agama. Harapannya, mereka tidak hanya sekadar tahu, tetapi merasakan ketenangan dalam beribadah," tutupnya.
Kegiatan ini diharapkan menjadi titik awal bagi warga untuk menjalani ibadah Ramadan dengan lebih khusyuk, serta memperkuat fondasi keimanan di tengah upaya membangun kembali kehidupan pascabencana.



