![]() |
| Dr. H. Hilal Mallarangan, MHI |
PALU, INFOBARU – Suasana khidmat menyelimuti Masjid Sabilul Muhtadin di kawasan Karampe, Kelurahan Besusu Tengah, Kecamatan Palu Timur, Selasa (6/3/2026) malam. Di tengah lantunan ayat suci yang menggema, jemaah tarawih duduk rapi menyimak tauziah singkat menjelang salat. Hadir sebagai penceramah, Al-Ustaz Dr. H. Hilal Mallarangan, MHI, mengajak mereka merenungkan kedudukan Al-Qur’an dalam pusaran kehidupan modern yang kian kompleks.
Dalam uraiannya, Ustaz Hilal tidak sekadar mengajak jemaah membaca Al-Qur’an, tetapi memahami fungsi fundamentalnya sebagai petunjuk bagi eksistensi manusia. Ia menegaskan, Al-Qur'an adalah kitab yang memegang dua peran besar: sebagai hudan linnas (petunjuk bagi seluruh umat manusia) dan hudan lilmuttaqin (petunjuk bagi mereka yang bertakwa). “Al-Qur’an bukan hanya milik umat Islam. Ia adalah cahaya universal yang menerangi jalan kemanusiaan,” ujarnya di hadapan puluhan jemaah yang duduk bersila di atas sajadah.
Namun, untuk meraih keberkahan hidup yang dijanjikan, lanjutnya, manusia perlu meneladani sifat-sifat orang bertakwa sebagaimana termaktub dalam QS. Al-Baqarah ayat 2-4. Ustaz Hilal memaparkan tiga ciri utama yang menjadi fondasi: pertama, iman kepada hal gaib—keyakinan mutlak kepada Allah dan ketetapan-Nya yang melampaui batas nalar. Kedua, menegakkan salat. “Salat adalah barometer utama,” tegasnya. “Jika kualitas salat seseorang baik, maka kebaikan akan merembes ke seluruh amal lainnya.”
Yang ketiga, dan tak kalah penting, adalah kepedulian sosial. Menurutnya, takwa tidak berhenti pada ritual vertikal semata. Ia harus menjelma dalam kedermawanan, dalam kesediaan berbagi rezeki kepada sesama tanpa ragu. “Orang bertakwa itu tak hanya rajin ke masjid, tetapi juga peka terhadap penderitaan orang lain,” imbuhnya.
Lebih jauh, Ustaz Hilal mengingatkan bahwa Al-Qur’an juga berfungsi sebagai Al-Furqan—pembeda yang tegas antara kebenaran dan kebatilan. Di era ketika informasi bercampur aduk dan nilai-nilai kian kabur, Al-Qur’an menjadi standar moral yang tak lekang waktu. “Ia adalah kompas yang menjaga kita tetap di jalan lurus,” katanya.
Menjelang akhir tauziah, Ustaz Hilal menyampaikan pesan yang menyentuh: menghidupkan syiar Islam dari lingkup terkecil, yakni rumah tangga. “Hiasilah rumah-rumah kita dengan bacaan Al-Qur’an. Jangan biarkan rumah kita sunyi dari lantunan ayat-ayat suci,” ajaknya. Ia mengingatkan bahwa setiap huruf yang dibaca bernilai sepuluh kebaikan. Namun, lebih dari sekadar membaca, umat Islam juga dituntut untuk mengamalkan setiap pesan yang terkandung di dalamnya.
Jemaah tampak khusyuk meresapi pesan-pesan itu. Di penghujung Ramadan yang penuh berkah, tauziah singkat itu menjadi pengingat bahwa Al-Qur’an bukan sekadar teks suci, melainkan cahaya yang harus terus dijaga dan diamalkan, agar kehidupan tidak kehilangan arah. (**)



